Hari ini gue mendengar kabar duka dari seorang temen gue….. Yah bukan temen deket juga sih, cuma saat gue denger kabar tentang Ibunya yang akhirnya meninggal setelah beberapa bulan koma , gue cukup tersentuh juga. Gue lihat perkembangan tweets-nya yang sangat membuat hati gue lumayan berempati sama temen gue yang satu ini. Setelah akhirnya gue tahu bahwa dia adalah anak tunggal dan Ayahnya juga sudah meninggal terlebih dulu dari Ibunya. Yah, berarti sekarang dia sebatang kara. Jika gue jadi dia, gue pasti ngga akan sanggup.
Sementara beberapa hari yang lalu, gue main ke rumah seorang sahabat gue juga. Gue kenal dia dari masa SMP. Waktu gue main ke rumah sahabat gue ini, kebetulan dia lagi bersih-bersih rumah. Sebagai sahabat yang baik gue pun ikut membantunya. Ketika gue sedang membersihkan langit-langit kamarnya, gue melihat foto keluarga sahabat gue ini di dinding kamarnya. Fotonya diambil ketika sahabat gue ini masih berusia 1 tahun. Di foto tersebut sahabat gue ini sedang digendong oleh Ayahnya yang dia sendiri bilang mirip artis Bollywood. Gue tahu bahwa sahabat gue ini adalah anak yatim. Sebenarnya gue ngga terlalu terobsesi untuk mencari infonya, berhubung sahabat gue yang satu in bukan termasuk orang yang nyaman menggunakan media sosial. Cuma ketika gue membantu Ibunya ini buat merapihkan buku-buku bekas milik kakaknya dari sahabat gue ini, gue mulai kepo. Gue search nama kakaknya ini yang memang menurut pengakuan beberapa temen gue dan kakak gue bahwa kakaknya ini adalah anak yang ‘nerd’. Waktu gue baca tweetnya mungkin biasa aja, ya seperti remaja laki-laki pada umumnya. Kesimpulan dari tweetnya yang dapat gue tarik adalah bahwa si kakaknya sahabat gue ini ternyata memang benar-benar tipe orang yang ‘nerd’. Tapi semuanya berubah ketika gue buka blog pribadinya........ Di sana gue diam.
Dari blog kakaknya ini akhirnya setelah bertahun-tahun gue sahabatan sama temen gue ini, gue baru tahu tentang keluarganya ini dahulunya merupakan keluarga konglomerat. Almarhum Ayahnya adalah seorang pengusaha kayu di Kalimantan yang sudah sering berpergian ke luar negeri. Ibunya juga dulu merupakan asisten direktur sebuah perusahaan internasional. Loh, kenapa sekarang mereka jadi seperti ini? Ya, semenjak Ayahnya meninggal akibat serangan jantung sekitar tahun 1996 (berarti sahabat gue ini masih berusia 2 tahun), seluruh harta kekayaan yang mereka punya habis untuk membayar hutang-hutang Ayahnya yang bangkrut kena tipu. Ibunyapun terpaksa harus berhenti bekerja untuk mengurus dua anaknya yang masih kecil. Mereka akhirnya menjual rumah mereka dan kini tinggal di rumah yang bukan milik mereka, melainkan milik sanak saudaranya. Ibunya pernah mencoba melamar pekerjaan kembali, namun ia ditolak bukan karena tidak berkompeten, melainkan karena tidak ada perusahaan yang sanggup membayar gaji yang sesuai dengan pengalaman kerjanya. Betapa hebat Ibu dari sahabat gue ini. Mengalami perubahan keadaan yang drastis dari serba berkecukupan menjadi kekurangan. Namun mereka masih hidup dengan baik dan senantiasa bersyukur. Pantas aja Ibunya ini sering nasihatin gue juga buat jangan berkecil hati dengan keadaan ekonomi keluarga, namun dengan segala keterbatasan yang kita punya ini harus kita kembangkan dan buat orang-orang di sekitar kita bangga. Sahabat gue ini belum tahu kalau ternyata gue sudah mengetahui sejarah keluarganya ini. Biarlah. Ngga penting juga kalau gue bilang gue tahu kenapa keadaannya kayak gini, yang ada malah bikin dia sedih lagi.
Oke. Tahu kenapa gue menulis tentang ini? Gue pun sebenernya kurang tahu persis kenapa gue tulis ini. Gue cuma nulis ini dengan tujuan membagi cerita bahwa kehilangan itu benar-benar hal yang menyakitkan, terlebih setelah kehilangan dari orang terdekat kita ini menimbulkan beban tambahan. Beruntunglah kalian yang masih punya Orangtua. Sayangi mereka, buat mereka bangga. Karena tdak ada kasih sayang yang lebih murni dari pada kasih sayang orangtua kepada anak-anaknya. Sekian. Semoga bermanfaat.