Minggu, 14 Desember 2014

Salah satu bagian kesukaan saat Petang Kreatif Sejarah 2014 (6 Desember 2014). Sebuah monolog dari Sartika ditambah iringan musik yang tenang.


Ibu                   : Baskoro.. Ia lelaki yang gagah dan tenang.. seperti angin yang menghanyutkan kapalku, membawanya untuk berlabuh. Ia berdiri dibelakangku, membuatku teduh dengan pesonanya. Baskoro ya Baskoro..  Lelaki yang tak kenal putus asa.. bahkan saat Bapak dengan tegas menolaknya mempersuntingku. Dasar lelaki keras kepala.. Haha. Lelaki  itu bukannya jahat.. Ia hanya orang kecil dengan ambisi yang besar. Teringat aku pada janji-janjinya dulu. Rumah, harta, dan buah hati yang lucu-lucu. Ia memang pemimpi, hanyut dalam tidurnya yang panjang, ia terus saja menutup mata! Kami tidak akan bersatu.. Waktu di dunia tidak cukup panjang untuk menunggunya dibalut sutra.. Bangun, Baskoro! Bapak tidak akan membiarkan aku dinafkahitukang kebun. Bapak tidak akan biarkan kita bersatu, Baskoro.. Bapak tidak akan..Entahapa yangmenyetaniku waktu itu, hingga aku rela meninggalkan Bapak dan hidup bersama Baskoro. Hari-harikami memang indah awalnya, laluanakku lahir dan kebahagiaanku semakin lengkap. Ku namakan ia Langit agar hatinya seluas cakrawala.Tapi kesempurnaan memang bukan milik manusia.Langit yang karunia bagiku, adalah petaka bagi Baskoro.Ia sadar tidak dapat memenuhi janji-janji manisnya dulu. Padahal Langit harus makan dan sekolah!Sejak saat itu Baskoro pun mulai berubah.Kasar. Kejam! Ada yang berbeda di matanya.Ia bukan Baskoro yang dulu.Ia tandai aku dengan jejak-jejak tangan. Aku kira ancaman-ancaman untuk membunuhku dan Langit hanya gertakan.. Sampai akhirnya ia benar-benar lakukan itu padaku..Langit, jangan tumbuh jadi bapakmu, Nak.