Ibu
: Baskoro.. Ia lelaki yang gagah
dan tenang.. seperti angin yang menghanyutkan kapalku, membawanya untuk berlabuh. Ia
berdiri dibelakangku, membuatku teduh dengan pesonanya. Baskoro ya Baskoro.. Lelaki yang tak kenal putus asa.. bahkan saat Bapak
dengan tegas menolaknya mempersuntingku. Dasar lelaki keras kepala.. Haha.
Lelaki itu bukannya jahat.. Ia hanya orang
kecil dengan ambisi yang besar. Teringat aku pada janji-janjinya dulu. Rumah,
harta, dan buah hati yang lucu-lucu. Ia
memang pemimpi, hanyut dalam tidurnya yang panjang, ia terus saja menutup mata! Kami tidak akan
bersatu.. Waktu di dunia tidak cukup panjang untuk menunggunya dibalut sutra.. Bangun, Baskoro! Bapak tidak akan
membiarkan aku dinafkahitukang kebun. Bapak tidak akan biarkan kita bersatu,
Baskoro.. Bapak tidak
akan..Entahapa yangmenyetaniku waktu itu,
hingga aku rela meninggalkan
Bapak dan hidup bersama Baskoro. Hari-harikami memang indah awalnya, laluanakku
lahir dan kebahagiaanku
semakin lengkap. Ku namakan
ia Langit agar hatinya seluas cakrawala.Tapi kesempurnaan memang bukan milik
manusia.Langit yang karunia bagiku, adalah petaka bagi Baskoro.Ia sadar tidak
dapat memenuhi janji-janji manisnya dulu. Padahal Langit harus makan dan
sekolah!Sejak saat itu Baskoro pun mulai berubah.Kasar. Kejam! Ada yang berbeda
di matanya.Ia bukan Baskoro yang dulu.Ia tandai aku dengan jejak-jejak tangan.
Aku kira ancaman-ancaman untuk membunuhku dan Langit hanya gertakan.. Sampai
akhirnya ia benar-benar lakukan itu padaku..Langit, jangan tumbuh jadi bapakmu,
Nak.